72 Tahun Merdeka, Mengapa Pembangunan PLTA di Indonesia Masih Minim?

JAKARTA, KOMPAS.com – Selama 72 tahun merdeka, namun pembangunan pembangkit listrik tenaga air ( PLTA) di Indonesia masih minim. Dari total potensi pembangkit listrik tenaga air (hidropower) sebesar 72 Gigawatt (GW), Indonesia baru memanfaatkan 4,2 GW.

“Itu baru sekitar sepersepuluh dari total potensi yang ada,” ujar Ismet Rahmad Kartono, Generation Specialist PT Poso Energy, anak usaha PT Bukaka Teknik Utama, dalam kuliah umum yang diselenggarakan Sekolah Pascasarjana Energi Terbarukan Universitas Darma Persada, Sabtu (3/6/2017).

Di China, pengembangan PLTA sudah sangat masif. China menguasai beberapa dari 10 PLTA terbesar di dunia. Bahkan PLTA terbesar di dunia yakni Three Gorges Dam berkapasitas 22,5 GW berada di China. Sementara PLTA di Indonesia masih berkapasitas puluhan MW.

Menurut Ismet, saat ini baru beberapa perusahaan swasta yang mau bergerak membangun PLTA. Salah satunya adalah Bukaka dan kemudian Kalla Group. Beberapa daerah yang disasar antara lain di Sulawesi, Kalimantan dan di Sumatera.

Dia menambahkan, perusahaannya merupakan perusahaan lokal yang berani membangun PLTA berkapasitas 3×65 Megawatt (MW) di daerah Poso, Sulawesi Tengah. Pasalnya, daerah tersebut merupakan daerah konflik pada saat itu serta memiliki kontur tanah yang susah dibangun.

Danau Poso, sebagai lokasi pembangunan PLTA, merupakan danau dengan ketinggian 500 meter di atas permukaan laut (dpl). PT PLN sudah memotret potensi PLTA di daerah ini sejak 1970. Pembangunan PLTA oleh PT Poso Energy dilakukan sejak tahun 2005-2012. Biayanya sekitar 5 juta dollar AS per MW.

“Ada 7.000 MW yang ingin kami bangun. Tapi ini belum ada apa-apa dibanding program 35.000 MW. Daerah yang kami kembangkan masih di Poso, yakni tahap I dan 3. Kemudian di Kerinci, di Malea di Tana Toraja dan di Mamuju,” ujar dia.

Menurut Ismet, potensi pengembangan PLTA di Indonesia masih besar sebab saat ini potensi hidropower yang dimanfaatkan masih kecil. Selain itu, teknologi turbin, tunnel dan generator terus berkembang menyesuaikan daerah pembangunan PLTA.

Tambahan lagi, sudah ada perusahaan swasta yang mau membangun PLTA. PLTA merupakan proyek pembangkit tenaga air dengan kapasitas di atas 10 MW. Jika dibawah itu, namanya proyek mikro hidropower dan piko hidropower.

Lantas, apa saja penyebab belum berkembangnya pembangunan PLTA di Indonesia?

Menurut Ismet, faktor penghambatnya adalah permodalan. Saat ini, rata-rata pembiayaan dari bank sekitar 7 tahun , padahal proyek-proyek konstruksi seperti PLTA ini rata-rata payback periodnya sekitar 15 tahun.

“Di sini kesulitan financing terjadi. Sementara perusahaan kami pembangunan PLTA ditopang 4 bank yakni BNI, BRI, Panin dan Exim,” lanjut dia.

Penghambat lainnya, yakni faktor alam. Rata-rata potensi PTA berada di atas pegunungan atau daerah yang sulit dijangkau. Untuk membangunnya bahkan butuh ratusan kilometer untuk membuka jalan menuju site lokasi.

“PLTA berbeda dengan pembangkit listrik energi terbarukan lain, sebab tidak bisa diaplikasikan secara sama di tempat lain. PLTA merupakan proyek bergantung alam,” paparnya.

Penghambat selanjutnya yakni regulasi. Saat ini pemerintah memang sedang menggencarkan pembangunan energi listrik dari energi baru dan terbarukan, namun sejumlah aturan turunannya ada yang belum sinkron.

“Terkadang dari LSM seperti enggan bekerja sama. padahal proyek listrik ini memberikan dampak keekonomian untuk masyarakat,” pungkasnya.

Target Bauran Energi 

Seperti diketahui, Indonesia telah meneken perjanjian untuk membatasi gas rumah kaca dan meningkatkan penggunaan energi bersih melalui Paris Agreement sejak 2015 lalu. Indonesia berkomitmen mencapai bauran energi hingga 23 persen pada 2025.

Porsi 23 persen bauran energi tersebut setara dengan 35.000 megawatt. Direktur Institute for Essential Services Reform Fabby Tumiwa mengatakan, setidaknya diperlukan dana Rp 1.200 triliun-Rp 1.600 triliun untuk mencapai target 23 persen energi terbarukan dalam bauran energi nasional pada 2025.

“Daya terpasang saat ini sekitar 10.000 megawatt dari energi terbarukan. Saya rasa, sulit sekali negara mencapai target tersebut,” ujar Fabby, seperti dikutip dari harian Kompas.

Sumber: Kompas.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s