Seperti Apakah Potensi Energi Terbarukan di Indonesia?

Seperti Apakah Potensi Energi Terbarukan di Indonesia?

Kemarin kita sudah melihat bahwa pengembangan energi terbarukan merupakan suatu hal yang sangat mungkin — banyak contoh negara yang telah berhasil mengembangkan potensi energi terbarukan mereka masing-masing. Terlihat juga bahwa dibutuhkan sebuah kerangka kerja yang baik dan efektif agar energi terbarukan dapat berkembang dengan cepat kedalam bauran energi negara-negara tersebut. Kondisi lingkungan yang berbeda di tiap negara berarti masing-masing negara memiliki potensi sumber energi terbarukan yang berbeda — bagaimana dengan Indonesia? Seperti apa potensi energi terbarukan di Indonesia?

Indonesia dikenal dengan negara kaya migas di jaman jayanya dahulu, dengan kilang LNG di Bontang yang merupakan salah satu kilang LNG pertama di dunia yang mulai mengekspor LNG ke luar negeri dan produksi minyak dari lading Minas di Riau yang telah berproduksi sejak tahun 1950-an. Begitu pun dengan EBT — Indonesia memiliki potensi pengembangan energi terbarukan yang amat tinggi. Tabel berikut ini memberikan garis besar potensi energi terbarukan di Indonesia dengan pengelompokkan lima sistem kelistrikan utama sesuai dengan lokasi geografis yang dipublikasikan dalam IRENA REmap 2017.

Dengan total potensi energi terbarukan yang melebihi 700 GW, diatas kertas, Indonesia dapat memasok tiga belas kali lipat dari total kapasitas pembangkit yang sekarang sudah terintegrasi dalam jaringan atau grid, yaitu sebanyak 51,9 GW. Dengan berkembangnya teknologi energi terbarukan yang lebih efisien, potensi yang tertera pada tabel tersebut dapat terus meningkat seiring lebih banyaknya potensi yang dapat diserap oleh pembangkit listrik.

Perlu diingat bahwa masing-masing jenis pembangkit diatas memiliki tantangannya sendiri-sendiri. Misalnya, beberapa sumber-sumber EBT merupakan sumber energi intermittentseperti PLTS dan PLTB, dimana sumber daya yang digunakan dapat berubah sewaktu-waktu dan tidak dapat mengikuti beban. Ada juga tantangan sosial seperti pembebasan lahan, dimana beberapa sumber EBT diatas memerlukan lahan dan izin pakai lahan yang cukup besar.

Melihat potensi energi terbarukan diatas, bagaimana dengan penetrasi energi terbarukan dalam sistem jaringan yang sekarang sudah berdiri di Indonesia? Mengingat kembali bauran energi yang sudah kita bahas sebelumnya, dimana sumber EBT baru menyumbang sebesar 5% dari konsumsi energi total atau hanya 8.5 GW di tahun 2015, pasokan dari energi terbarukan, yang saat ini masih didominasi oleh PLTA dan PLT biomassa, masih sangatlah minim dibanding dengan potensinya. Kendati demikian, pemerintah Indonesia sadar akan hal ini dan sudah berkomitmen di COP21 untuk meningkatkan pengembangan energi terbarukan empat kali lipat dibanding dengan tahun 2014. Dalam usahanya untuk mencapai komitmen ini, sudah ada beberapa proyek-proyek energi terbarukan yang mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah yang sudah ataupun sedang dikerjakan di Indonesia.

Berikut adalah contoh-contoh proyek pembangkit listrik yang menggunakan sumber EBT di Indonesia.

PLTA Cirata

PLTA terbesar di Indonesia, PLTA Cirata sempat menjadi PLTA terbesar di Asia Tenggara sebelum berdirinya PLTA Son La di Vietnam. Dibangun sejak 1984, PLTA Cirata diresmikan oleh Presiden Soeharto pada bulan Mei 1986 dan memulai operasi tahun 1988. PLTA ini memiliki kapasitas total sebesar 8 x 126MW turbin Francis yang diputar menggunakan aliran dam dari waduk Cirata yang dibangun dari aliran sungai Citarum di Purwakarta, Jawa Barat.

Pembangkit ini di operasikan oleh anak perusahaan PT PLN, yakni PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB) dan dapat menghasilkan energi sejumlah 1,428 GWh per tahunnya, untuk sistem jaringan 500kV Jawa-Bali. PLTA Cirata ini digunakan oleh PT PJB sebagai peakerpower plant yang gunanya menopang sistem Jawa-Bali bila terjadi kekurangan daya atau beban yang tiba-tiba meningkat. Meskipun dibangun tahun 1988, ekspektasi umur dari PLTA ini adalah 250 tahun.

PLTS Kupang

Saat penulisan artikel ini, PLTS 5MWp Kupang adalah PLTS terbesar di Indonesia. PLTS yang terletak di desa Oelpuah, di Kupang ini baru diresmikan oleh Presiden Joko Widodo bulan Desember 2015 lalu. Mendapat dukungan penuh dari pemerintah Indonesia, PLTS ini dibangun dengan tujuan utama mengurangi beban Biaya Pokok Penyediaan (BPP) dari jaringan kelistrikan PLN NTT yang saat itu masih terdiri sebagian besar dari PLTD (bertenaga diesel) yang mahal (rata-rata 0.3 L/kWh).

PT Len Industri, pengembang dari proyek PLTS Kupang ini merupakan pengembang sekaligus pemasok modul surya dan beberapa komponen Balance of System(BoS) dari pembangkit ini. Dilengkapi dengan lebih dari 22 ribu modul surya, proyek ini menggunakan lahan sebanyak 7.5 hektar. PLTS ini mendapatkan kredit investasi dari bank dalam negeri yaitu Bank Mandiri. Proyek ini menunjukkan kapabilitas bank dalam negeri dalam memberikan investasi untuk proyek-proyek energi terbarukan yang masih relatif tergolong “baru” di Indonesia.

PLTB Sidrap

Mengikuti dua contoh diatas, PLTB Sidrap adalah proyek energi terbarukan dengan skala besar yang dilaksanakan oleh Independent Power Producer (IPP). Walaupun masih dalam tahap konstruksi, PLTB Sidrap yang terletak di Kabupaten Sidenreng Rappang di Sulawesi Selatan ini diharapkan dapat memulai Commercial Operation Date(COD)-nya di awal tahun 2018 mendatang dan mulai memasok listrik yang dihasilkan dari tenaga angin.

Setelah mencapai kesepatakan di pertengahan tahun 2015 dengan PT PLN dan kementrian ESDM, PT Sidrap Bayu Energi, yang merupakan anak perusahaan PT UPC Renewables Indonesia mencapai financial closing di awal tahun 2017 dan sudah menjalankan proses konstruksi selama 1 tahun. PT Sidrap Bayu Energi akan menggunakan turbin angin dari Siemens Gamesa Renewable Energy dengan kapasitas 2.5MW per turbin. Dengan total pembiayaan melebihi 100 juta US Dollar, PLTB Sidrap diharapkan memasok 75 MW (30 turbin x 2.5MW) kedalam sistem jaringan transmisi PLN.

Walau sudah ada proyek pembangkit EBT yang berjalan dan sedang berjalan sekarang, dan juga yang direncanakan atau committed,demi mencapai target bauran energi yang direncanakan pemerintah, perlu tambahan proyek-proyek lain dan tentu disokong oleh dukungan pemerintah yang konkrit.

Sebelum kita membahas lebih detil tentang apa saja rencana pemerintah untuk mencapai sasaran pengembangan EBT, kita akan terlebih dahulu memahami lebih dalam mengenai cara kerja pembangkit listrik EBT — bagaimana bisa angin menghasilkan listrik? Bagaimana bisa ombak menghasilkan listrik, bukankah hal tersebut dapat sangat potensial mengingat negara kita yang berbentuk kepulauan? Apa saja tantangan masing-masing sumber energi? Kita akan mulai pertama-tama dengan pembangkit listrik bertenaga angin, tetap di #15HariCeritaEnergi!

Sumber:kompasiana.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s